Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
  • HYDRO FATIH | ORGANIC FLOWER GARDEN
blog-img-10

Posted by : Indah Melina

Pupuk Dari Cangkang Telur Sebagai Sumber Kalsium

Membuat Pupuk Dari Kulit Telur

Kalsium sama pentingnya bagi tanaman seperti halnya bagi manusia. Kalsium adalah salah satu zat yang paling umum disamping oksigen dan silikon dan Sebagian besar kalsium ada dalam bentuk kalsium karbonat (CaCO3). Dalam Natural Farming, kalsium karbonat diekstraksi dari kulit telur di mana kalsium karbonat adalah komponen utama dengan menggunakan cuka beras.

Apabila kita menggunakan kulit telur lalu langsung di aplikasikan ke media tanam, meskipun sudah dihancurkan, maka akan membutuhkan waktu lama untuk bisa larut di tanah. Dikarenakan Kalsium karbonat yang terkandung di dalam kulit telur sulit larut di dalam air.

 

Melalui proses ini, kalsium karbonat diubah menjadi kalsium yang larut dalam air, yang dapat dengan cepat diserap oleh tanaman. Hal ini mencegah pertumbuhan berlebih dari tanaman, mengeraskan buah dan memperpanjang masa penyimpanan, meningkatkan penyerapan asal fosfat dan membantu tanaman untuk mengakumulasi nutrisi.

 

Karakteristik Kalsium

  1. Kalsium berkontribusi pada pemanfaatan karbohidrat dan protein yang lebih baik. Ini menjadi komponen utama dalam membentuk membrane sel dan memungkinkan pembelahan sel yang halus.
  2. Kalsium menghilangkan zat berbahaya dalam tubuh dengan mengikat asam organic.
  3. Kalsium mencegah tanaman tumbuh berlebihan.
  4. Kalsium membuat buah lebih keras dan memperpanjang masa penyimpanan.’
  5. Kalsium meningkatkan penyerapan asam fosfat dan bertanggung jawab untuk akumulasi nutrisi dalam tanaman.
  6. Kalsium berperan penting menjaga kesehatan tanaman.
  7. Kalsium membawa dan mengakumulasi nutrisi untuk misalnya, karbohidratt, yang disimpan sementara di cabang dan di daun.

 

Bahan:

  1. Kulit telur yang telah dihancurkan sampai menjadi serpihan kecil tapi jangan sampai terlalu halus.
  2. Cuka beras
  3. Wadah/toples dari kaca
  4. Karet gelang untuk mengikat serta kertas tissue tebal dan spidol

 

Cara Membuat

  1. Kulit telur yang telah dikumpulkan dihancurkan sehingga menjadi serpihan kecil, membran tipis dari kulit telur diusahakan dibuang. Perbandingan antara kulit telur yang telah dihancurkan dengan cukanya adalah 1:10.
  2. Sangrai kulit telur sehingga agak kecoklatan (jangan sampai hangus). Simpan sampai dingin.
  3. Masukkan kulit telur yang telah disangrai ke dalam toples kaca, lalu masukkan cuka beras ke dalam toples.
  4. Ketika cuka dimasukkan ke dalam toples berisi cangkang telur akan terjadi reaksi naik turun dari kulit telur dan akan mengeluarkan gelembung-gelembung kecil.
  5. Simpan di tempat gelap sekitar 7 hari sampai gelembung-gelembung itu menghilang. Ini menandakan bahwa larutan telah jenuh.
  6. Kalsium karbonat adalah komponen utama kulit telur. Ketika kalsium karbonat berkerja dengan segala jenis asam, ia menghasilkan karbon dioksida(CO2). Tetapi asam asetat, komponen utama cuka adalah asam lemah, sehingga bereaksi sangat lamban dan mengeluarkan CO2 yang tidak terlihat. Kulit telur yang mengembang berarti CO2 meleleh menjadi Cuka.
  7. Pisahkan/ saring larutan cuka dengan kulit telurnya, tutup dan simpan terhindar dari sinar matahari langsung.

 

Mungkin akan timbul pertanyaan, apakah cuka tidak akan terlalu asam untuk tanaman?. Tingkat keasaman cuka akan dinetralkan oleh cangkang telur. Sehingga cuka yang sudah menjadi larutan dengan kulit telur ini aman digunakan untuk tanaman.

 

Cara aplikasi WCA adalah dengan melarutkan dengan perbandingan 1:1000. Atau 1ml WCA dicampur dengan 1 liter air. Biasanya campuran ini dicampur dengan pupuk organic cair lainnya seperti yang terbuat dari lidah buaya, dari papaya dan pisang, dari jantung pisang dll. Aplikasi dengan cara disemprotkan ke daun atau tanaman.

 

Gejala defisiensi Kalsium pada tanaman:

  1. Akar yang kurang berkambang dan rambut akar yang lemah; ini karena protoplasma normal sel tidak terbentuk karena kekurangan kalsium.’
  2. Daun berubah warna menjadi kecoklatan dan kemudian mengering.
  3. Pematangan buah yang buruk, kelembaban dan asam organik yang berlebihan, kadar gula yang rendah, pelunakan daging buah dan aroma yang kurang sedap.
  4. Pada sayuran mengakibatkan sering mengalami kerusakan diakibatkan oleh penyakit. Dan cenderung kurang tahan lama di saat penyimpanan.